Dan ketika mereka bertepuk tangan memberikan applause yang begitu meriah,maka cerita itu muncul dibelakang.
Tiba saatnya bernostalgia dengan orang orang terdekat,keluarga,sahabat,atau teman.
begitu baiknya sebuah kejujuran,mungkin menjadikan seseorang bisa tidak lebih kaya dari seorang pengemis,namun mereka orang yang istimewa layaknya manusia purba yang tulang ekornya di museumkan itu.
suatu ketika ada sebuah bilik bambu,beratap jerami dan beralas tanah merah,namun terdapat lukisan indah didalamnya,yang menggambarkan kesyukuran mereka terhadap anugrah Yang Maha Kuasa.Mereka tinggal disebuah rumah,mereka anggap semua kebutuhan mereka ada disekelilingnya,dedaunan,kayu bakar,umbi umbian,dan kawan sebangsanya.
Kupandangi bilik itu,dan batinku.. : "Tuhanku Yang Maha Adil,Bagaimana cara mereka bersyukur bersyukur,mereka bisa sangat berkehidupan rukun,berdamai dengan sesamanya,dan begitu dekatnya denganmu,".Terbesit bayangan gambaran pahit dan sebuah pertanyaan besar, : mengapa diperkotaan sana yang rumahnya megahnya beratap duplikasi awan,dan kemilau cahaya keemasan dari lampu gantung satu milyar,hanya tinggal tiga orang yang selalu mengeluh,sulit sekali bertegur sapa,dan sakit sakitan hatinya itu.
Maka ketika itu Tuhan bercerita tentang keadilan,yang sederhana yaa rukun yang diatas sederhana yaa enggan minta ampun.Senang menyindir sesamanya namun tak pernah menyelundup kedalam dirinya sendiri mengendus kesalahan kepada dirinya sendiri.dan ketika tiba dia harus banjir keringat,maka tibalah waktunya mengeluh.
Mudah sekali sepertinya untuk beralasan tentang kenapa kenapa yang dilakukanya itu,namun tidak pernah bercermin tentang siapa dirinya.ooh,,ternyata begitu cara bermain mereka,tidak mau jaga,hanya mau bermain.mau menginjak temannya namun tidak mau bersaing dengan dirinya,
"Astagfirullahhaladziim,ko bisa ya enak enakan?"ucapku mengerutkan dahi.
"loh,iya dong apa yang gk enak?,wong makan tinggal makan,tidur,gak usah repot lah,,"
"apa kamu gak tau terima kasih kepada siapa yang memasak makananmu itu?'
"aah,,biar saja,itu memang tugasnya,mau aku ludahi makanan ini pun tak menjadi masalah.."
"ya Tuhaan,semoga kau membuka matanya sedikit untuk melihat matahari diatas kepalanya"batinku.
Terkadang sulit untuk berteman,menjelaskan bagaimana usaha orang disekitarnya.yang penting asal jadi dan beres,padahal yang berusaha mungkin yang menghilirkan air matanya ketika mereka di injak-injak.Habislah anastesinya dan ego itu seenaknya.Tuhanku yang Maha Penyayang sadari mereka mereka yang telah menginjak dan menendangku,maka seketika itu Engkau memberinya anastesi yang baik yang menyayangi sesamanya,bukan tidak mau membantu hanya,mau mengambil air saja untuk mengobati hijau pucat daun itu.
asfanazkarim.

No comments:
Post a Comment